Untuk membuka blokir BRImo, Anda bisa menghubungi CS BRI melalui chat WhatsApp di ( 628999771128). Melalui aplikasi BRImo, Anda bisa memilih lupa username atau password pada halaman login.


 


Untuk membuka blokir BRImo, Anda bisa menghubungi CS BRI melalui chat WhatsApp di ( 628999771128). Melalui aplikasi BRImo, Anda bisa memilih lupa username atau password pada halaman login.


𝐂𝐚𝐥𝐥-𝐂𝐞𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐘𝐔𝐏 —𝐓𝐮𝐧𝐚𝐢 & 𝐂𝐫𝐞𝐝𝐢𝐭

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat chat Whatsapp= ( 62) 851-6689-9616 Layanan 24 jam


Call Center yup - visa & credit

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat chat Whatsapp= ( 62) 851-6689-9616 atau menghubungi YUP Contact Centre di nomor 0851=6689=9616


Miss saya mau bikin program kokurikuler dengan lintas mapel bahasa arab, seni, dan matematika untuk jenjang SMP kelas 7. Saya udah nanya chat GPT tapi belum nemu jawaban yang sreg. kalau dari miss ada saran ngga ya?


Miss saya mau bikin program kokurikuler dengan lintas mapel bahasa arab, seni, dan matematika untuk jenjang SMP kelas 7. Saya udah nanya chat GPT tapi belum nemu jawaban yang sreg. kalau dari miss ada saran ngga ya?

 


Ijin bertanya. Apakah dimensi 8 DPL tsb harus terakomodir semua di 6 semester pada jenjang SMA? Bolehkah salah satu/dua dimensi dari 8 DPL berulang pada level kelas berikutnya karena dianggap hasil capaiannya (di rapor hasil belajar) kurang optimal secara klasikal? Terima kasih. 


Izin bertanya mis terkait tema yang di bawakan saya ingin bertanya mis dengan pertanyaan saya, Bagaimana memastikan penggunaan ChatGPT dan Padlet TA dalam mendesain program kokurikuler benar-benar mendorong pembelajaran mendalam dan penalaran kritis siswa, tanpa mengurangi kreativitas dan profesionalitas guru?


User Avatar
Kurikulum Dveeloper

Kurikulum Dveeloper - Terkait penggunaan ChatGPT dan Gemini, keduanya sebaiknya diposisikan hanya sebagai dasar atau referensi awal, bukan sumber final yang langsung digunakan. Guru tetap harus memahami CP (Capaian Pembelajaran) dan JP (Jam Pelajaran) agar program yang dirancang selaras dengan kurikulum dan kebutuhan siswa. Hasil dari AI perlu direview, dianalisis kembali, disesuaikan dengan karakter kelas, serta dikembangkan secara kontekstual bukan sekadar copy paste. Profesionalitas guru justru terlihat ketika mampu memodifikasi, menyaring, dan mengintegrasikan ide dari teknologi menjadi desain pembelajaran yang autentik, bermakna, dan sesuai dengan tujuan pendidikan.

User Avatar
Kurikulum Dveeloper

Awit Panti - Dalam konteks perbedaan karakteristik murid, khususnya yang lebih dominan kinestetik seperti siswa Ms Meri, pendekatan pembelajaran perlu berbasis aksi dan pengalaman nyata, jadi terjadi dinamika yang berbeda antar karakteristik peserta didik. Jika gaya visual dan audio lebih sulit bagi mereka, maka kegiatan kokurikuler dapat dirancang dalam bentuk proyek, simulasi, roleplay, atau pembuatan prototipe nyata. Di sinilah Taksonomi Bloom level C6 (Creating) menjadi sangat relevan, siswa didorong untuk menjadi pembuat dan pencipta, bukan sekadar pengguna teknologi. Mereka dapat mendesain kegiatan, menciptakan solusi atas masalah nyata, dan menghasilkan karya orisinal berdasarkan hasil analisis dan refleksi mereka. Dengan demikian, kreativitas dan profesionalitas guru tetap terjaga, bahkan semakin kuat, karena guru berperan sebagai fasilitator berpikir tingkat tinggi yang memastikan teknologi digunakan untuk memperdalam, bukan menggantikan, proses belajar.

Miss kira-kira apa ya strategi terbaik untuk memotivasi siswa agar tidak menganggap kokurikuler hanya sebagai "tugas tambahan", melainkan kebutuhan pengembangan diri juga?


User Avatar
Kurikulum Dveeloper

Nada - Strategi terbaik untuk memotivasi siswa agar tidak menganggap kokurikuler sebagai “tugas tambahan” adalah dengan menggeser cara pandang mereka dari kewajiban menjadi kebutuhan pengembangan diri. Caranya, kegiatan kokurikuler perlu dibuat relevan dengan minat, potensi, dan tujuan pribadi siswa. Guru dapat mengaitkan program dengan keterampilan nyata yang mereka butuhkan seperti kepemimpinan, kolaborasi, problem solving, atau kreativitas serta memberi ruang pilihan agar siswa merasa memiliki (sense of ownership). Ketika siswa dilibatkan dalam perencanaan, diberi tantangan berbasis proyek nyata, dan melihat dampak konkret dari karyanya, maka kokurikuler tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai ruang aktualisasi diri dan pembentukan identitas.