Untuk  pelajaran  pjok  menggunakan  AI  nantinya  akan membantu menjadikan anak kreatif  tolong  nanti  dijelaskan  salah  satu  kreatifitas  menggunakan  AI  untuk pelajaran PJOK


Bismillah AI seperti apa yang paling cocok digunakan guru RA untuk merancang kegiatan bermain-belajar tanpa mengurangi interaksi langsung guru dan anak?”


User Avatar
Kurikulum Dveeloper

Enny Haryani,A.ma. - Terimakasih atas pertanyaan Bu, Membuat ide kegiatan belajar: AI dapat membantu menyusun permainan edukatif, cerita interaktif, atau aktivitas tematik yang sesuai usia dan kurikulum RA. Misalnya, permainan berhitung sambil bernyanyi, atau kegiatan seni sambil mengenal alam. Menyusun bahan ajar visual dan audio: AI bisa membantu membuat kartu gambar, poster, lagu, atau ilustrasi sederhana yang menarik untuk anak, sehingga guru lebih fokus membimbing secara langsung. Menyediakan referensi dan tips: AI bisa memberikan tips pengelolaan kelas, cara memfasilitasi bermain yang edukatif, atau ide variasi kegiatan bila anak cepat bosan. Membuat rencana harian atau mingguan: AI membantu guru menyusun alur kegiatan bermain-belajar dengan fleksibel, sehingga interaksi tatap muka tetap maksimal dan anak aktif bergerak serta belajar secara alami. Intinya, AI digunakan sebagai pendamping kreatif dan perencana, bukan pengganti guru. Semua kegiatan tetap dipimpin guru, anak tetap berinteraksi langsung, sementara AI membantu guru lebih efisien dan kreatif.

Ijin bertanya: berdasarkan teori kebutuhan maslow, bagaimana cara memaksimalkan kekreatifitasan siswa dan Guru untuk mengembangkan aktivitas kegiatan belajar pembelajaran dimana fasilitas sekolah kurang memadai. misal didalam mata pelajaran Bahasa Inggris dikelas 7! terima kasih


User Avatar
Kurikulum Dveeloper

Alfagitya Surya Muhamad Bimantara, S.Pd - Berdasarkan teori kebutuhan Maslow, kreativitas siswa dan guru tetap dapat dimaksimalkan meskipun fasilitas sekolah terbatas, asalkan kebutuhan dasar hingga kebutuhan aktualisasi diri diperhatikan secara bertahap. Pertama, pada kebutuhan fisiologis dan rasa aman, guru perlu menciptakan suasana kelas yang nyaman secara psikologis. Ruang kelas sederhana bukan hambatan selama siswa merasa aman untuk mencoba, salah, dan belajar. Guru dapat menggunakan aktivitas ringan seperti permainan kata sederhana, dialog singkat, atau membaca nyaring tanpa alat khusus. Kedua, pada kebutuhan sosial (rasa memiliki), pembelajaran kolaboratif menjadi kunci. Dalam pelajaran Bahasa Inggris kelas 7, siswa dapat diajak berdiskusi berpasangan, bermain peran (role play), atau kerja kelompok kecil untuk menyusun dialog sederhana. Interaksi ini tidak membutuhkan fasilitas mahal, tetapi sangat efektif meningkatkan keterlibatan dan keberanian berbahasa. Ketiga, pada kebutuhan penghargaan (esteem), guru dapat memberikan apresiasi verbal, pujian, atau penugasan yang memberi rasa pencapaian. Misalnya, siswa diminta membuat percakapan pendek tentang kegiatan sehari-hari dan mempresentasikannya secara sederhana di depan kelas. Pengakuan atas usaha siswa akan meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi belajar. Terakhir, pada kebutuhan aktualisasi diri, kreativitas dapat dikembangkan melalui tugas terbuka dan kontekstual. Guru dapat mengajak siswa membuat cerita pendek, dialog imajiner, atau permainan peran berbasis situasi nyata di sekitar mereka, seperti di pasar, sekolah, atau rumah. Guru pun dapat berkreasi dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, seperti papan tulis, kertas, atau lingkungan sekitar sebagai media belajar.

Izin bertanya : Sering saya mengajar menggunakan kuis di quizziz,, apakah saya sdh termasuk menggunakan AI dlm proses pembelajaran? Terima kasih🙏


User Avatar
Kurikulum Dveeloper

OKTAVIANUS TAHU, S. Pd., Gr - Terima kasih, Bapak, atas pertanyaannya^^ Sebelumnya nama Quizziz sudah bergantii, tapi, ya, Bapak udah termasuk menggunakan AI dalam proses pembelajaran ketika memanfaatkan kuis di Quizizz (jika diinputnya tidak satu-satu dan langsung melalui sistem AI, atau langsung copas dari AI nya), namun namanya adalah Gamifikasi jika Bapak masih input dan buat soalnya secara manual. Hal ini karena Quizizz tidak hanya berfungsi sebagai alat kuis biasa, tetapi juga memanfaatkan kecerdasan buatan dan analitik data untuk mengolah hasil jawaban peserta didik, memberikan umpan balik otomatis, serta membantu guru melihat pola pemahaman dan kesulitan siswa secara lebih cepat. Selain Quizizz, masih ada beragam bentuk pemanfaatan AI lain dalam pembelajaran, misalnya: AI untuk penyusunan RPP atau modul ajar (seperti ChatGPT, Gemini AI, atau Canva AI), AI untuk asesmen dan umpan balik otomatis, AI untuk analisis kemajuan belajar peserta didik melalui dashboard data, AI untuk pembuatan media pembelajaran interaktif seperti video, infografis, atau materi adaptif. Yang terpenting bukan seberapa banyak AI yang digunakan, melainkan bagaimana AI membantu Ibu mencapai tujuan pembelajaran, meringankan beban administratif, dan meningkatkan kualitas interaksi belajar di kelas. Jadi, langkah yang Ibu lakukan saat ini sudah tepat, dan ke depannya dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan dan karakter peserta didik

saya ingin bertanya, bagaimana saya mengatur porsi pembelajaran saya yang tidak hanya AI dan bermain saja, namun tetap fokus pada penyampaian materi. karena beberapa waktu ini saya cukup sering bias di kelas apakah sebenarnya pembelajaran saya butuh media yang berbasis games dan AI atau sebanarnya cara mengajar saya yang belum tepat.

 


User Avatar
Kurikulum Dveeloper

Fidela Azizi - Hai Bu, pertanyaan yang luar biasa^^, Kegelisahan yang Ibu rasakan sebenarnya bukan pertanda bahwa pembelajaran Ibu keliru, melainkan tanda bahwa Ibu sedang bertumbuh dan mengevaluasi praktik mengajar secara sadar, dan itu tidak masalah. Bias pembelajaran di kelas bukan semata-mata karena penggunaan AI atau media berbasis gim, melainkan lebih pada bagaimana porsi dan tujuan penggunaannya dirancang dalam alur pembelajaran. Perlu dipahami bahwa AI dan game bukan tujuan utama, melainkan alat bantu. Jika pembelajaran terasa terlalu bermain dan kurang fokus pada materi, hal itu sering kali terjadi karena tujuan pembelajaran belum sepenuhnya menjadi arah utama dalam setiap aktivitas. Alih-alih mempertanyakan apakah Ibu membutuhkan AI dan game, pertanyaan yang lebih tepat adalah: Di bagian mana materi ini sulit dipahami peserta didik? Apakah media yang digunakan membantu memperjelas konsep, atau justru mengalihkan fokus dari substansi? Apabila AI atau game membantu peserta didik memahami konsep, terlibat aktif secara terarah, serta mampu menjelaskan kembali materi dengan pemahaman yang benar, maka media tersebut tepat dan relevan. Namun, jika fokus kelas bergeser dan tujuan pembelajaran tidak tercapai secara optimal, maka yang perlu dievaluasi adalah strategi penyajian dan pengelolaan kelas, bukan kemampuan mengajar Ibu. Kunci utamanya terletak pada pengaturan porsi pembelajaran: Ibu dapat memulai dengan penyampaian konsep inti secara jelas, kemudian memanfaatkan AI atau media berbasis gim sebagai penguat atau latihan, dan menutup pembelajaran dengan penegasan kembali serta refleksi. Dengan cara ini, pembelajaran tetap bermakna, terarah, dan tidak kehilangan esensi. Kesadaran Ibu untuk merefleksikan hal ini adalah modal penting untuk menciptakan pembelajaran yang lebih seimbang dan berdampak. Bila Ibu berkenan, saya juga siap membantu menyusun alur pembelajaran yang proporsional atau memetakan kapan penggunaan AI benar-benar dibutuhkan dan kapan tidak, sesuai dengan karakter kelas Ibu

bagaimana kita menghadapi apabila dalam kelas kita ada anak inklusi dimana slow learn, berbagai gaya belajar sudah saya coba namun hasilnya tidak signifikan. saya memberikan kemudahan dalam kbm dengan memperbolehkannya menggunakan Ai untuk alat bantu untuk belajarnya. namun hal ini menjadi kecemburuan terhadap siswa lain dalam belajar. apakah hal yang saya lakukan salah ?  apa langkah yang sebaiknya saya ambil 


Dalam praktik di kelas, strategi apa yang efektif agar murid merasa didengar dan dihargai, namun tetap diarahkan pada perilaku belajar yang positif dan produktif?


Izin bertanaya. saya Guru kelas 5 di SDN 04 Nanga Sentabai (Wilayah Perbatasan RI-Malaysia), Bagaimana strategi membangun budaya kelas humanis dapat dioperasionalkan secara nyata tanpa bertentangan dengan tuntutan capaian akademik, asesmen kurikulum nasional, dan tekanan ketuntasan belajar, khususnya di kelas dengan keterbatasan literasi dan kondisi psikososial siswa di wilayah perbatasan?


saya mau bertanya. Menurut Ibu Bilqis, apa tanda paling halus bahwa seorang anak sebenarnya sedang ga baik baik aja di kelas, dan apakah setiap perilaku bermasalah selalu berakar pada kondisi emosional, atau ada situasi tertentu yang menjadi pengecualian?


Saya salah menulisakan nama pada profil, tolong disetujui admin